16 September 2017

Semarak Literasi Santri Persis


“Satu tarikan pelatuk senjata hanya mampu membunuh satu jiwa, Namun satu guratan pena bisa membunuh hingga beratus-ratus bahkan beribu-ribu jiwa.”
Pekikan kata dari sang orasi memecah lingkar udara di Pameungpeuk .
      
 Pekikan takbir pun bergema di sepanjang jalan, para pemuda dan pemudi berkumpul bersama-sama. Mereka memiliki satu tujuan yang sama, Yap! Memeriahkan acara Semarak Literasi. Acara gerak jalan yang digelar di Pameungpeuk hari Sabtu, 16 September 2017 ini diikuti oleh beberapa Pesantren Persis yang ada di Pameungpeuk, diantaranya Pesantren Persis 03 Pameungpeuk, MA Al-Huda, MA Al-Marwah, dan Pesantren Persis yang lainnya. Walaupun hanya digelar di kecamatan Pameungpeuk, tetap saja acara berlangsung dengan sangat meriah.
 Acara yang dimulai pukul 07.00 WIB ini, dibuka dengan sambutan dari Pimpinan Pelaksana Semarak Literasi, Ketua Pimpinan Cabang Persis, dan terutama sambutan dari Kepala Kecamatan Pameungpeuk.
“Kegiatan ini sangatlah penting, dan tidak akan saya lewatkan,” ujarnya saat sambutan.
Bisa dilihat dari kutipan bapak camat pameungpeuk tersebut, bahwa acara semarak literasi ini sangatlah penting. Karena dengan acara ini, bisa menumbuhkan lagi minat dan kecintaan membaca kepada masyarakat dan pemuda-pemudi yang ada di sekitar kecamatan Pameungpeuk ini.

Setelah sambutan-sambutan selesai di  sampaikan, acara dilanjutkan oleh gerak jalan yang dimeriahkan oleh marching band MA Al-Huda.

Gerak jalan literasi ini di mulai dari kantor PC Persis, melewati beberapa desa di sekitar kecamatan Pameungpeuk. Dalam perjalanannya, orasi di semarakkan kepada warga agar semangat membaca minimal 1 jam sehari. Karena membaca membuat sebuah bangsa menjadi lebih terpelajar. Begitulah kata sang orasi. Dan juga orasi-orasi dari para panitia begitu membakar semangat membaca. Terutama dari ketua Pimpinan Cabang Persis yang menganjurkan kepada warga sekitar agar cinta membaca. Selain itu juga acara ini bukan hanya sekedar ajang meningkatkan kesadaran membaca, tetapi ada sebagian orang memanfaatkan acara ini sebagai ajang reunian. Terlihat beberapa santri dari Pesantren Persis sangat senang melihat rekan-rekan lama, yang sudah lama tidak bertemu.
Dalam acara gerak jalan literasi ini banyak masyarakat yang antusias, terutama dari bapa-bapa dan ibu-ibu yang memuji serta mendukung penuh acara ini. Bahkan terdengar ada bapak-bapak yang memekikan suara takbir saat orasi berlangsung  Dalam gerak jalan literasi ini juga dibagikan buku-buku secara gratis kepada para warga agar semakin termotivasi membaca, walaupun peluh keringat bercucuran dari para peserta, kaki lecet-lecet bahkan ada salah satu peserta yang pingsan, namun acara gerak jalan literasi ini berjalan dengan lancar, menyenangkan, serta berkesan.

08 September 2017

TERE LIYE BERHENTI MENCETAK BUKUNYA



            
Selasa (05/09/17). Dilansir dalam akun facebook resmi Tere Liye yang berjudul “Selalu ada jalan keluarnya”. Ia mengatakan bahwa Penulis buku adalah orang paling dermawan kepada Negara disbanding dengan artis, dokter, arsitek, pengusaha dll. Dikarenakan membayar pajak paling besar.

            Penulis berkelahiran di Lahat tersebut mengilustrasikan pembagian pajak antara penulis, pengusaha, dokter dll. Berikut saya kutip pembagian menurut Tere liye :

Di sebuah komplek misalnya, ada 10 rumah. Rumah A adalah dokter, Rumah B adalah akuntan, Rumah C adalah arsitek, Rumah D adalah pengusaha, Rumah E adalah pengacara, Rumah F adalah karyawan swasta, Rumah G adalah PNS, Rumah H adalah artis terkenal, Rumah I adalah motivator, dan Rumah J adalah Penulis Buku. Maka penulis buku adalah orang yang membayar pajak paling banyak.

Kita anggap saja 10 rumah ini semuanya sama penghasilannya: 1 Milyar/tahun. Dan kita anggap saja PTKP (penghasilan tidak kena pajak) rumah ini sama--jadi kita anggap PTKP-nya nol saja, untuk memudahkan ilustrasi

Maka dokter (A), akuntan (B), arsitek (C), artis terkenal (H), motivator (I), pajaknya dihitung sbb: 1 Milyar x 50% (rasio NPPN, kurang lebih demikian rasionya, biar sederhana), dapatlah 500 juta penghasilan netto. Lantas dikalikan lapisan (layer) pajak penghasilan progresif, 50 juta pertama tarifnya 5%, 50-250 juta berikutnya tarifnya 15%, lantas 250-500 juta berikutnya tarifnya 25%. Total pajak rumah2 ini adalah hanya: 95 juta.

Sementara Rumah D, karena dia adalah pengusaha UMKM, maka tarif pajaknya hanya 1% dari omzet bruto. Rp 1 Milyar x 1% = Rp 10.000.000. Selesai. Mudah menghitungnya. Tentu, mengingat sifatnya bisnis, belum tentu semua 1 M tadi adalah penghasilan bersih, karena dia harus membeli bahan2, dll. Tapi tetap saja, pajak mereka murah sekali, hanya 1%.

Lantas penulis buku, berapa pajaknya? Karena penghasilan penulis buku disebut royalti, maka apa daya, menurut staf pajak, penghasilan itu semua dianggap super netto. Tidak boleh dikurangkan dengan rasio NPPN, pun tidak ada tarif khususnya. Jadilah pajak penulis buku: 1 milyar dikalikan layer tadi langsung. 50 juta pertama tarifnya 5%, 50-250 juta berikutnya tarifnya 15%, lantas 250-500 juta berikutnya tarifnya 25%. Dan 500-1 milyar berikutnya 30%. Maka total pajaknya adalah Rp 245 juta.

Lihat perhitungannya? Penulis buku membayar pajak 24x dibanding pengusaha UMKM, dan 2x lebih dibanding profesi pekerjaan bebas. Dan jangan lupakan lagi, penulis itu pajaknya dipotong oleh penerbit, itu artinya, dia tidak bisa menutup2i pajaknya. Artis, pengusaha, lawyer, wah, itu sih mudah sekali untuk menyembunyikan berapa penghasilan sebenarnya. Penulis tidak bisa, sekali dipotong oleh penerbit, maka bukti pajaknya akan masuk dalam sistem.

Masih ada yang menyamai pajak penulis buku, yaitu karyawan swasta dan PNS. Dari angka 1 Milyar tadi, mereka dikurangi dulu biaya jabatan 5%, lantas dikalikan layer2nya, pajak karyawan swasta/PNS kurang lebih 5% lebih rendah dibanding penulis. Tapi catat baik2, penulis adalah profesi pekerjaan bebas, dia bukan karyawan tetap. Beda sekali sifatnya. Penulis bisa sukses, bisa gagal, bukunya bisa laku bisa tidak, penghasilannya bisa ada, lebih banyak tidaknya, tapi karyawan swasta dan PNS, gajinya pasti, tetap sifatnya, dan diberikan oleh perusahaan tempat dia bekerja.

Nah, dengan ilustrasi tersebut, dari 10 rumah di komplek itu: penulis buku adalah yang paling dermawan kepada pemerintah (meski rumahnya paling kecil, mobilnya paling sederhana). Mereka ternyata membayar pajak dengan jumlah massif sekali. “

Tere Liye juga mengakui bahwa dirinya telah menyurati beberapa lembaga pemerintah. Dan hasilnya nihil, tidak ada balasan satupun.

Saya sudah setahun terakhir menyurati banyak lembaga resmi pemerintah, termasuk Dirjen Pajak, Bekraf, meminta pertemuan, diskusi”

“Apa hasilnya? Kosong saja. Bahkan surat2 itu tiada yang membalas, dibiarkan begitu saja nampaknya. Atas progress yg sangat lambat tersebut, dan tiadanya kepedulian orang2 di atas sana” lanjutnya.

Lalu dipenghujung postingan Tere Liye menyatakan bahwa ia tidak akan mencetak lagi bukunya.

“maka saya Tere Liye, memutuskan menghentikan menerbitkan buku di penerbit2, Gramedia Pustaka Utama dan Penerbit Republika, per 31 Juli 2017 lalu. 28 buku2 saya tidak akan dicetak ulang lagi, dan dibiarkan habis secara alamiah di buku hingga Desember 2017.”
Ia juga menyatakan bahwa nanti Januari 2018 sudah tidak aka nada lagi buku tere liye yang beredar ditoko. Jika masih ada yang menjualnya maka itu bajakan.


**ilustrasi di atas adalah penyederhanaan, karena PTKP, tanggungan, biaya jabatan maksimal, donasi wajib agama, dll bervariasi setiap orang, tapi kalaupun dimasukkan semuanya secara akurat, substansinya akan sama dengan ilustrasi.







14 Agustus 2017

cerita Islami seru | Kisah Ashabul Uhdud | Tafsir Al Buruj




Dalam sebuah Hadis yang dirawikan oleh Muslim dan Imam Ahmad tentang seorang anak kecil yang kuat imannya dan banyak pertolongan Allah kepadanya, sehingga terlepas dari berbagai bahaya. Baru dia dapat mati dibunuh setelah raja yang menyuruh membunuh itu membaca suatu pengakuan atas Keesaan Allah.

. Duduk ceriteranya demikian; "Berkata Nabi s.a.w.: Di zaman dahulu ada seorang raja. Baginda mempunyai seorang ahli sihir. Setelah ahli sihir itu merasa dirinya telah tua, bardatang sembahlah dia kepada raja menerangkan bahwa dia telah tua dan hampir sampai ajalnya. Dia mohonkan kepada raja agar raja mencarikan seorang anak kecil!, karena kepada anak itu akan diturunkannya ilmu sihirnya. Permohonan itu dikabulkan raja, lalu diserahkan kepadanya seorang anak kecil dan datanglah anak itu berulang-ulang kepada tukang sihir itu mempelajari sihimya. Di antara tempat tinggal tukang sihir dan tempat tinggal anak itu ada pula berdiam seorang pendeta.

 Anak itu senantiasa singgah pula berteduh di tempat kediaman pendeta itu dan banyak pula dia mendengar ucapan-ucapan dari pendeta tua itu yang amat menarik hatinya. Maka kalau dia terlambat datang kepada tukang sihir, tukang sihir itu marah lalu memukulnya. Dan kalau dia terlambat pulang ke rumah orang tuanya kena marah pula mengapa ter lambat pulang. Lalu diajarkan oleh pendeta tua itu suatu jawaban; kalau, ditanya oleh tukang sihir mengapa lambat, jawablah karena terlambat turun dari rumah dan kalau ditanya pula di rumah mengapa terlambat, katakan guruku tukang sihir menahan daku. Dalam hal yang demikian selalulah dia pulang dan pergi ke rumah tukang sihir dan tetap singgah di rumah pendeta.

 Pada suatu hari terhambatlah orang yang lalu lintas berjalan di jalan raya yang ditempuhnya karena ada binatang buas yang mengganggu, sehingga orang merasa takut liwat di situ. Ketika itu anak kecil tersebut lalu pula di sana. Lalu dia berkata: "Akan aku uji, manakah yang lebih dapat aku gunakan, ajaran tukang sihirkah atau ajaran pendeta. Lalu diambilnya sebuah batu dan dia ucapkan: "Ya Allah! Kalau ajaran pendeta itu yang benar di sisi Engkau, lebih datipada ajaran tukang sihir maka bunuhlah binatang ini!, supaya manusia yang lalu lintas di jalan ini jangan terhalang juga." Lalu dilemparkannya batu itu kepada binatang tersebut. Maka matilah binatang itu dan lalu lintaslah manusia sebagai biasa.

Setelah dia menghadap pendeta itu diceriterakannyalah pengalamannya itu kepada beliau. Maka berkatalah beliau: "Wahai buyung! Engkau telah mencapai derajat yang lebih tinggi daripada yang aku capai! Tetapi aku peringatkan kepada engkau, bahwa engkau akan menderita banyak percobaan. Maka kalau percobaan itu datang, jarganlah engkau beritahukan hubungan engkau dengan daku.''

Sejak waktu itu nama anak itu kian terkenal dan dapatlah dia mengobati orang yang ditimpa penyakit kusta atau penyakit balak dan penyakit lain-lain. Raja ada mempunyai seorang orang besar yang selalu diajak raja musyawarat. Kebetulan orang itu buta. Dia mendengar cerita orang tentang anak itu, lalu datanglah orang besar buta itu kepadanya membawakan hadiah sebanyak-banyaknya dan berkata: "Sembuhkanlah butaku! Hadiah ini adalah untukmu dan jika aku sembuh hadiah ini aku tambah lagi!" Anak itu menjawab: "Saya tidak berkuasa menyembuhkan apa jua pun macam penyakit. Yang Maha Kuasa menyembuhkan hanya Allah. Kalau tuan sudi beriman kepada Allah, saya akan berdoa memohonkan kepadaNya agar tuan disembuhkan." Mendengar ajakan anak itu berimanlah orang besar yang buta itu. Lalu anak itu berdoa, maka orang besar itu pun sembuhlah dan nyalanglah kedua belah matanya.

 Setelah matanya sembuh datanglah dia kembali ke dalam majlis raja. Baginda sangat tercengang lalu bertanya: "Siapa yang menyembuhkan mata engkau?" Dia menjawab: "Tuhanku!" Dengan heran raja bertanya pula: "Akukah yang engkau maksudkan?" Dia menjawab: "Bukan! Tuhanku dan Tuhan Tuanku ialah Allah!" "Engkau mengakui ada lagi Tuhan selain aku?" Orang besar itu tetap menjawab: "Tuhanku dan Tuhan Tuanku ialah Allah? Raja sangat murka mendengar jawab itu, sehingga orang besar itu ditangkap dan disiksa, sampai karena tidak tahan menderita sakit dibukanya rahasia bahwa guru yang mengajarnya ialah anak kecil tersebut. Anak kecil itu pun ditangkap lalu ditanyai apa benarkah dia dapat menyembuhkan orang yang dapat penyakit kusta, orang buta dan lain-lain. Anak itu menjawab bahwa semuanya itu tidak benar! Dia tidak dapat menyembuhkan siapa jua pun. Yang menyembuhkan segala yang sakit hanya Allah Yang Maha Kuasa. "Akukah yang engkau maksudkan?" tanya raja. "Bukan!" jawab anak itu: "Tap' Allah!" "Apakah engkau mengakui pula ada Tuhan selain aku?" tanya raja lagi. Dengan tegas anak itu menjawab pula: "Tuhanku dan Tuhan raja ialah Allah!" Mendengar jawab demikian anak itu pun disiksa. Dia pun dipaksa mengakui dari mana dia mendapat pelajaran yang amat ganjil itu. Karena tidak tahan dipukul, terpaksa dia menunjukkan gurunya, yaitu pendeta tersebut tadi. Pendeta itu pun segera ditangkap.

Dia pun disiksa dan dipaksa meninggalkan agama yang dianutnya mengatakan ada lagi Tuhan selain raja, namun pendeta itu tidak mau. Akhirnya karena tidak mau juga meninggalkan agama bertuhan kepada Allah itu, diperintahkan raja mengergaji kepala pendeta itu. Kepala beliau digergaji sampai terbelah dua dan mati. Kemudian dipaksa pula orang besar yang telah sembuh dari buta itu meninggalkan agama bertuhan kepada Allah itu dan kembali hanya bertuhan kepada raja. Dia pun tidak mau. Dia pun digergaji pula, sampai belah dua badannya dan mati Lalu dihadapkan pula anak kecil itu.

Dia pun mulai dipaksa meninggalkan agama yang telah diimaninya itu. Tetapi dia tidak mau. Lalu raja memerintahkan beberapa orang membawa anak itu ke puncak gunung, dan raja memerintahkan: "Apabila sampai di puncak gunung paksa dia sekali lagi kembali kepada agama kita. Kalau dia tidak juga mau lemparkanlah dia ke bawah!" Maka dibawa oranglah dia ke puncak gunung. Sampai di sana kedengaranlah anak itu berdoa; "Ya Allah! Peliharakanlah aku dari mereka dengan kekuasaanMu!" Tiba-tiba bergoncanglah gunung itu dan orang-orang yang mengantarkan itulah yang jatuh dan anak itu selamat. Dia pun turun dan terus sekali menghadap raja. Lalu raja bertanya: "Apa khabar orang-orang yang aku suruh menghantarkan engkau ke gunung?" Anak itu menjawab: "Tuhanku telah memeliharakan daku dari mereka."

Rupanya raja belum juga puas. Disuruhnya menangkap anak itu sekali lagi dan disuruh hantarkannya dengan sebuah sampan ke tengah laut. Diperintahkan kepada orang yang mengantarkan supaya memaksa anak itu kembali kepada agama yang lama. Kalau tidak mau supaya dia dibenamkan saja masuk laut. Sekali lagi anak itu menadahkan tangannya ke langit, maka datanglah angin ribut sangat besar. Tenggelamlah seluruh orang yang diperintahkan mengantarkannya itu dan dia sendiri selamat berenang ke tepi.

 Dan kembali dia menghadap raja. Dia pun ditanya apa yang telah kejadian. Dia menjawab-Tuhannya telah menolongnya dan orang-orang itu telah tenggelam semuanya. Kemudian berkatalah dia kepada raja: "Hai Raja! Tuanku tidak akan dapat membunuh aku kalau hanya dengan cara demikian. Barulah akan berhasil tuan membunuhku jika tuan kerjakan apa yang aku suruhkan. Kalau tidak tuan kerjakan apa yang aku suruhkan, tidaklah akan berhasil maksud tuan me nyingkirkan daku dari dunia ini!" Lalu raja bertanya: "Apakah yang engkau minta itu?" Anak itu menjawab: "Tuan suruh manusia berkumpul di satu tempat. Kemudian tuan suruhkan menaikkan daku ke atas kayu palang (salib), lalu tuan ambil satu anak panah kepunyaanku sendiri dari dalam busurnya. Kemudian tuan bidik aku dengan tepat, lalu baca "Dengan nama Allah, Tuhan anak kecil ini." Dengan melakukan cara demikian barulah tuan dapat membunuhku. Permintaannya itu dilakukan oleh raja, diambil anak panahnya dari busurnya dan dengan mengucapkan: "Dengan nama Allah, Tuhan anak kecil ini." Lalu dipanahnya anak kecil itu, tepat kena pada jantungnya dan terkulailah kepalanya, sedang tangannya memegang pangkal panah yang telah tersisip di dadanya dan dia pun matilah. Tiba-tiba terloncatlah dari mulut seluruh orang yang hadir
"Kami beriman dengan Tuhan anak kecil ini." Gempitalah suara di tanah lapang itu menyatakan iman kepada Tuhan Allah, yang dipercayai oleh anak kecil itu. Maka berbisiklah seorang kepada raja: "Tidakkah tuan perhatikan? Bukankah apa yang tuan takuti selama ini telah terjadi? Budak kecil itu mati, tetapi semua orang telah menganut ajarannya?" Sangatlah murka raja melihat manusia telah berbalik arah. Lalu raja memerintahkan menangkapi orang-orang yang terang-terang menyatakan percaya kepada Tuhan anak kecil itu, dan baginda suruh gali lobang-lobang atau parit-parit besar. Dan diancamlah orang: "Barangsiapa yang masih memegang kepercayaan anak kecil itu akan dimasukkan ke dalamnya dan dibakar dan barangsiapa yang kembali kepada agama pusaka nenek-moyang akan selamat." Mendengar itu tidaklah mereka mundur, malahan mereka berduyun mendekati lobang yang ternganga itu menunggu giliran dibakar. Maka adalah di antara mereka itu seorang perempuan yang sedang membimbing anaknya, seketika telah dekat ke pinggir lobang itu timbul raguragu dalam hatinya. Tiba-tiba berkatalah anaknya yang dalam bimbingan itu: "Teguhkan hatimu, ibuku! Ibu adalah dalam agama yang benar!"

 Begitulah sebuah Hadis yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan Muslim dan dirawikan juga oleh anNasa'i, dari Hadis dan diriwayatkan juga oleh Termidzi yang berasal daripada Hadis sahabat Rasulullah s.a.w. Shuhaib

08 Agustus 2017

Cukupkah Amal Kita Tuk Membeli Tiket Surga-Nya

By : Salif


Suara takbir bergemuruh dari seluruh pelosok negri ini. Hati ini mengikuti suara lantunan indah itu. Allaahu Akbar! Allaahu Akabar!!
.
 YaAllah Ya Raab, kami hanyalah makhluk yang kecil. Kami hanyalah makhluk tak berdaya. Kami tak punya apa apa. Amal kami baru sedikit. Ilmu kami hanya sedikit.
.
 Ketaatan dan iman kami kepada-Mu jauh dari sang Rasul. Jihad kami belum sebanding sedikit pun dengan Khalid bin Walid. Kepemimpinan kami sangat berbeda dengan kepemimpinan Abu Bakar. Ketegasan kami jauh dari Umar bin Khatab, kami tidak sepandai Ibnu Abbas, pemahaman pemahaman kami tidak seperti Aisyah, kepatuhan kami tidak seperti Siti Hajar dan Nabi Ismail. Kesabaran kami sangat jauh dengan Nabi Ayub. Kami tidak seperti para ilmuwan Islam yang bisa menghafal begitu banyak ilmu dan mengamalkannya.
.
Ya Raab! Apakah iman kami cukup untuk membeli tiket surga-Mu? Ya Raab apakah kami akan berkumpul bersama Sang Rasul disurga kami? Ya Raab kami rindu dengan Rasul kami. Kami ingin bertemu dengan beliau. Ya Raab apakah iman kami cukup untuk bertemu dengan mu? Ya Raab begitu banyak dosa dosa yang kami buat. Ya Raab, takterhitung hati orang lain yang kami sakiti. Ya Raab, kami ingin surga -Mu. Ya Raab kami ingin berkumpul dengan orang orang yang kami cintai disana. Ya Raab, apakah masih cukup waktu untuk kami agar bisa memperbaiki semua kesalahan kesalahan yang kami buat? Ya Raab apakah masih lama nyawa ini hilang? Ya Raab aku ingin mati dalam keadaan syahid, dalam keadaan husnul khatimah. Agar aku bisa memasuki surga-Mu.
.
Engkau yang maha pengasih dan penyayang. Engkau yang maha pengampun. Engkau yang maha mengetahui isi hati kami. Ampuni kami yang tak berdaya ini Ya Raab.

30 Juli 2017

Karena Kasih dan Sayang dari-Nya

Bagaimanaah kita yang hidup karena ridho dari-Nya yang maha pemilik kehidupan.
Allah... seketika aku berfikir, ketika Kau mengambil sebuah kesenangan dari genggamanku itu adalah pertanda buruk bahawa Kau tak lagi memperdulikan aku dan juga kesenanganku.
seseorang yang sering kusebut teladan sekaligus penyemangat bagi diriku, ia yang selalu setia membersamaiku disetiap waktu. Ia adalah Ayah dan Ibu-ku dua orang yang paling hebat dalam kehidupanku, diamanahinya aku dengan sebuah keberanian yang semakin larut aku perbaiki. Aku, yang kini bagai bunga layu yang tak tahu arah, dimana aku harus bertumpu, sebab aku telah diracuni rindu yang kian pekat menggelayuti daun-daun hijauku, Bagai seonggok daging yang tah tahu letak eksistesinya yang mulai dipertaruhkan.
Tapi aku beruntung, aku mempunyai dua orang penyemangat dalam hidupku. tak lain ia adalah ayah dan ibu ku, mereka yang setia membersamaiku kala aku ditempa kesusahan yang teramat dalam, kesusahan tersebab ia yang ku sayang malah meghilang. menyemangatiku sembari mengatakan "Kehilangan adalah milik ia yang Maha Memiliki, sedangkan kita hanya ciptaan-Nya, kita pun sama-sama Milik-Nya, jadi, tak pantaslah bagi kita untuk bersedih terlalu lama, apalagi sampai berlarut-larut. berdoalah pada-Nya, Ia maha mengabulkan segalanya, biarpun dia mengabulkan secara tidak langsung, itu pertanda bahwa ia mempunyai waktu yang begitu tepat untuk mengabulkan doa mu. jangan pernah lelah untuk berdoa hanya karena Ia yang maha Pendengar mengabulkan doa tak seperti yang kau minta. barangkali apa yang ia beri lebih baik lagi bermakna bagi kehidupamu juga masa depanmu. teruslah berdoa jangan sampai kau lalai terhadap-Nya tersebab kau berfikir bahwa ketika ia merenggut kesenanganmu ia tak lagi sayang terhadapmu. jika kau berfikir seperti itu kau telah salah menilai,Nak.. Allah tak pernah seperti itu, karena Ia adalah penolong bagimu. barangkali, saat Ia merenggut  dan merampas kebahagiaan yang sedang kau miliki, Ia memiliki rencana untuk memberikan  Hadiah kebahagiaan yang lebih indah dari yang kau miliki saat itu. percayalah.... Allah begitu mengasihimu, Ia begitu menyayangimu."
Redamlah semua amarah, luluh-lah semua gelisah, tersebab saran dari mereka, karena Kasih dan Sayang Allah terhadapku, ia telah merancang skenario terbaik-Nya, ia telah kirimkan dua penyemangat paling berharga lagi berarti di kehidupanku.
Ayah dan Ibu, Karena kasih dan sayangnya, Ia hadirkan kalian dalam setiap detik kehidupanku.
sebuah tulisan yang kutulis di sela keramaian rapat di Cibiuk, tapi... Alhamdulillah selamat hingga kata terakhir, meski harus ekstra ber-konsenrasi. ^-^
.
Pameungpeuk, 30 Juli 2017
Raesi Amini

26 Juli 2017

Kisah Menyentuh Hati

Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang hidup disebuah rumah yang cukup sederhana. keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, 3 anak laki-laki dan 5 anak perempuan.
ayah adalah seorang pekerja disebuah kantor cukup ternama, dan gajihnya pun lumayan besar. ayah sangat giat dalam melaksanakan tugasnya. bahkan ia sering berangkat pagi sekali dan pulang larut malam. malah ia jarang bertemu dengan anaknya.
pada suatu hari ketika ayah baru gajihan, sang ayah ingin sekali memberikan kejutan kepada keluarganya. ia pun memutuskan untuk pergi ke pasar untuk membeli sesuatu. sesampainya di rumah, ia langsung disambut hangat oleh istri dan anak-anaknya yang kebetulan ayahnya pulang sore hari.
sesampainya di ruang tamu ia memberikan sekantung plastik hitam yang dibawanya kepada sang ibu sambil berbisik "jangan beritahu anak-anak dulu yah bu" dan ibu pun membalas dengan senyum bahagia. dan teryata anak-anak yang melihat ayah dan ibu menyembunyikan sesuatu dari mereka. akhirnya mereka berembuk membicarakan orangtua mereka sendiri. dan disimpulkan dari rembukan tersebut bahwa anak ke 3 melihat ibu menyimpan rahasia itu di kulkas.mereka kebingungan lalu mengutus kaka terbesar untuk melihat ada yang disembunyikan ayah dan ibunya. lalu anak pertama mendekati kulkas sambil merunduk karena ibu sedang cukup dekat dengan kulkas sambil menonton TV. dan sampailah anak itu dipintu kulkas dan dilihatnya keresek hitam yan disembunyikan ayah ibunya. ketika dilihat ternyata isinya adalah.... "sepotong hati sapi" dan anak itu menyentuh nyentuh hati itu...
dan tamatlah sudah...
makasih udah buang waktu kalian dengan membaca postingan kali ini.
#ARR_1103

MELANGKAH JANGAN MENYERAH

by : Raesi Amini
            Aku, wanita mencoba segala. Berjalan maju menghadapi masalah. “hidup kok penuh masalah ya?????” batinku berkata, tapi tetap melangkah saja, kadang terpaksa, kadang penuh persiapan menghadapinya.
            Sampai disuatu ketika masalah itu sirna. “oh, hidup ini penuh dengan himah ya” terkagum-kagum mata batin dibuatnya. “alangkah indah caramu mengajariku.” Batinku tersenyum.
            Ya, baru kupahami, mengapa seorang guru berkata “bersyukur jika memiliki masalah”. Sebab jika ridho, hadapi, dan percaya, masalah akan berubah menjadi hikmah. Hikmah yang menempa diri lebih baik dari sebelumnya.
            “sebab kemenangan sejati bukan menjadi lebih baik dari orang lain. Tapi lebih baik dari diri kita yang kemarin.”
           

            “Siapa yang bersabar ia akan beruntung”"مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ" 

07 Maret 2017

APAKAH ANDA SERING LUPA? COBA BACA DULU INI !!

ٍاِقۡرَاۡ وَرَبُّكَ الۡاَكۡرَمُۙ‏الَّذِىۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِۙ عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡؕ
“ Bacalah dan Tuhanmulah yang maha Pemurah. Yang mengajari manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”

Bismillah…
Mungkin anda pernah merasa tersiksa hafalan yang pernah anda hafal secara tiba-tiba lupa justru ketika anda membutuhkannya. Sebaliknya ketika anda tidak membutuhkannya justru anda mengingat hafalan tersebut. Nah, itulah yang dinamakan lupa.
Kenapa kita bisa melupakan sesuatu? Eric Jensen dan Karen Markowiz menjawabnya secara cerdas dalam bukunya, Sejuta Gigabyte : Buku Pintar Membangun Ingatan Super. Menurut mereka, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kita melupakan sesuatu

1.       Menganggap sesuatu itu tidak penting
2.       Ada gangguan baik dari diri kita sendiri ataupun dari luar
3.       Ada kerusakan dalam saraf otak kita
4.       Adanya tekanan
5.       Kita sedang dalam keadaan stress
6.       Kita melupakan petunjuk untuk menampilkan kembali ingatan
7.       Kita mengalami ganguan fisik

Nah, Setelah anda membaca beberapa faktor yang dapat menyebabkan anda bisa lupa akan sesuatu.
Insya Allah, saya yakin anda bisa introspeksi, memperhatikan, menelisik, serta menakar diri,  kenapa anda bisa lupa dan “bagaimana” anda bisa mengatasinya. Jika tidak anda tidak perlu waswas, saya akan paparkan kiat-kiat agar kita tidak lupa.

Pernahkah anda berfikir bahwa anda terlahir sebagai  orang yang memiliki kemampuan berfikir dan daya ingat  terburuk sedunia? Saya harap anda buang jauh-jauh pemikiran seperti itu. Karena apa? Karena Allah SWT telah memberikan anda dan manusia lainnya untuk memiliki kapasitas penyimpanan ingatan sampai 180 quintillion bit (280.000.000.000.000.000.000).
Oleh karena itu jangan pandang remeh kemampuan otak anda ! apabila anda lupa, bukan berarti kemampuan otak anda lemah tapi mungkin karena anda jarang melatih otak anda sendiri.
Berikut ada beberapa kiat sederhana nan praktis yang dapat segera dilakukan anda jika anda ingin melipat gandakan daya ingat anda. Saya namakan kiat DASI.
1.       Desire (hasrat)
Hasrat mendalam akan memudahkan anda mengenali kata kunci untuk menampilkan kembali ingatan itu. Mantan presiden kita semua alias Gus Dur, konon dapat mengingat dengan baik 100 nomor telepon koleganya. Bukan karena ingatannya yang Amazing. Tetapi  beliau mampu menanamkan hasrat untuk mengingat sesuatu dan mengetahui cara untuk memanggil kembali ingatan itu ketika beliau membutuhkannya.
2.       Attention (Perhatian)
Perhatikan secara baik-baik apa yang anda sedang pelajari. Pilih dan telisiklah bagian mana yang ingin anda ingat. Coba juga perhatikan  hal apa yang bisa membuat anda ingat akan hal tersebut, seperti singkatan atau kata-kata unik yang ada pada pelajaran itu, agar suatu saat ketika anda membutuhkannya anda tinggal mengingat kata-kata yang unik tadi.
3.       Spirit (semangat)
Kita tentu butuh semanagat untuk sering melatih dan membiasakan diri menampilkan kembali ingatan yang dibutuhkan.
4.       Interest (Minat)
Pikiran latar positif akan menumbuhkan minat dan mengembangkan kualitas daya ingat anda.
                Itulah beberapa kiat-kiat yang bisa anda lakukan untuk mempertajam ingatan anda.
 Anda perlu tahu bahwa banyak sekali cara-cara unik yang dilakukan orang lain untuk mengingat sesuatu, selain dari  beberapa kiat-kiat yang telah saya paparkan tadi, oleh karena itu CARILAH!! TELISIKLAH!! Cara anda mengingat sesuatu..

Akhirul kalam Alhamdulillahi robbil ‘Alamin…
Wallahu a’lam bishawab…

20 Februari 2017

Just A dream



Semalam aku bermimpi tentang mu,ketika diriku yang berusaha tuk menatap wajahmu semakin aku mengejarmu namun engkau selalu menghindar bahkan menghilang begitu saja.sampai aku berlari,tersandung,dan bangkit kembali hanya untuk memenuhi rasa penasaranku akan isi dalam mimpiku.
   Hingga aku terbangun,bertanya tanya serta kebingungan akan maksud mimpi yang menyeretmu tuk menjadi pemeran utamanya.namun,aku tak pernah percaya sebuah tahayul di dalam mimpi.mungkin diriku terlalu memikirkanmu akhir akhir ini,mungkin aku hanya rindu kehadiranmu tuk mengisi hari-hariku dengan ceritamu yang kadang membuatku tersenyum bahkan sebaliknya.
Tetapi, mimpiku masih teringat jelas hingga aku mengambil kesimpulan bahwa aku merasa kehilangan akan sosok seperti dirimu aku berusaha menerangkan siriku karena aku tak ingin kepergianmu menjadi sebuah penyesalan untukku.
Mungkin hari ini aku masih bisa berkata “aku menyukaimu” namun keesokannya? Mungkin kata-kata kebencianku akan terlontarkan dan pasti itu akan membuatmu merasa aneh. Aku tak ingin merasakannya. Sudah terlalu sakit ketika ditinggalkan olehmu lalu aku harus merasakan kehilangan dan akhirnya mengikhlaskanmu bagiku saja.
Aku hanya ingin diriku saja yang meninggalkanmu. Agar aku tak merasakan ada sakit hati yang harus kurasakan berkali-kali. Aku tak tahu lagi jika dengan caraku engkau merasa tersakiti atau sebaliknya? Yang pastinya ini bukan caraku, ini bukan diriku yang seperti biasanya. Ini bukan bentuk kebencianku akan kehadiranmu dihidupku, namun inilah caraku tuk mencintaimu.....

10 Februari 2017

"Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekah, tetapi jihad dan niat."

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
1171. Dari Ibnu Abbas  Radhiyallahu Anhuma berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekah, tetapi jihad dan niat." (Muttafaq Alaih)
[Shahih: Al Bukhari 1834 dan Muslim 1353]

Penjelasan Kalimat
Mereka berkata, "Hadits ini adalah 'Am dan menasakh hadits terdahulu yang mewajibkan hijrah, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerintahkan bangsa Arab yang baru masuk Islam untuk berhijrah, tidak mengingkari mereka yang tetap diam di negerinya, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setiap mengirim ekpedisi angkatan perang berkata kepada komandannya,
إذَا لَقِيت عَدُوَّك مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إلَى ثَلَاثِ خِلَالٍ، فَأَيَّتُهُنَّ أَجَابُوك فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ، ثُمَّ اُدْعُهُمْ إلَى التَّحَوُّلِ عَنْ دَارِهِمْ إلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ، وَأَعْلِمْهُمْ أَنَّهُمْ إنْ فَعَلُوا ذَلِكَ أَنَّ لَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ، فَإِنْ أَبَوْا وَاخْتَارُوا دَارَهُمْ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ يَجْرِي عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللَّهِ تَعَالَى الَّذِي يَجْرِي عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
"Jika kamu bertemu musuhmu dari kaum musyrikin, ajaklah mereka kepada 3 hal, bila mereka menerima salah satu ajakan itu, terimalah mereka dan jangan diapa-apakan, kemudian ajaklah mereka berpindah dari negeri mereka ke negeri kaum muhajirin, beritahukanlah jika mereka melakukan hal itu; bahwa mereka akan mendapatkan hak sebagaimana hak kaum muhajirin, tapi jika mereka menolak dan lebih memilih negeri mereka sendiri, katakanlah pada mereka bahwa mereka seperti Arab Badui yang masuk Islam diberlakukan kepada mereka hukum Islam sebagaimana diberlakukan kepada kaum mukminin,"  [Shahih: Muslim 1731]
hadits ini tidak mewajibkan kepada mereka berhijrah, hadits-hadits lainnya selain hadits bab Ibnu Abbas ini yang mewajibkan berhijrah, mungkin diperuntukkan bagi siapa yang merasa tidak bisa memelihara agamanya dari berbagai fitnah. Mereka berkata, "Dengan penafsiran demikian, berarti sudah menggabungkan semua hadits riwayat tentang hijrah."
Sedangkan yang mewajibkan hijrah menjawab, bahwa hadits, "Tidak ada hijrah " maksudnya dari Mekah sebagaimana yang ditegaskan. dalam sabdanya, "Setelah penaklukan kota Mekah", karena sebelumnya diwajibkan berhijrah dari Mekah.
Ibnul Arabi berkata, "Hijrah adalah keluar dari negara kaum kafir menuju negara Islam, sebelumnya diwajibkan pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan terus berlangsung bagi siapa yang khawatir akan dirinya dan yang terputus kekerabatan, yaitu bertujuan agar bisa dekat dengan Nabi di mana beliau tinggal."
Sabda Nabi, "Tetapi jihad dan niat," Ath-Thaibi dan lainnya berkata bahwa hal ini menunjukkan adanya perbedaan hukum antara hukum sesudah dengan sebelumnya, dan makna hijrah yang diperintahkan sebelumnya adalah pergi menuju Madinah, sudah terhapus hukumnya, namun yang masih berlaku adalah pergi ke suatu negeri untuk berjihad di jalan Allah, demikian juga pergi hijrah dengan niat baik, seperti hijrah dari negeri kaum kafir, menuntut ilmu, menghindari fitnah-fitnah yang terjadi, dan semua itu sangat ditentukan bagaimana niatnya ketika hendak hijrah.
An-Nawawi berkata, "Khabar yang menerangkan bahwa perintah hijrah sudah tidak berlaku lagi, namun hijrah itu bisa dilakukan dengan berjihad dan niat shalih."

 Subulus Salam Syarah Bulughul Maram,13. KITAB JIHAD13. KITAB JIHAD\1171

Hak Muslim Kepada Muslim Lain

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إذَا لَقِيته فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَك فَانْصَحْهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
1341. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: apabila engkau bertemu dengannya hendaklah engkau memberikan salam kepadanya, apabila ia mengundangmu hendaklah engkau penuhi undangannya, apabila ia meminta nasihat kepadamu hendaklah engkau menasehatinya, apabila ia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah hendaklah engkau mendoakannya, apabila ia sakit hendaklah engkau menjenguknya, dan apabila ia mati hendaklah engkau mengiring jenazahnya." (HR. Muslim)
[shahih, Muslim (2162)]
Penjelasan Kalimat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam:
1.      Apabila engkau bertemu dengannya, hendaklah engkau memberikan salam kepadanya.
2.      Apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau penuhi undangannya.
3.      Apabila ia meminta nasehat kepadamu, hendaklah engkau menasehatinya.
4.      Apabila ia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, hendaklah engkau mendoakannya.
5.      Apabila ia sakit, hendaklah engkau menjenguknya.
6.      Dan apabila ia mati, hendaklah engkau iringi jenazahnya. (Hadits riwayat Muslim.)
Dalam Hadits riwayat Muslim yang lain: ada lima dan yang tidak tercantum adalah apabila ia meminta nasehat kepadamu hendaklah engkau menasehatinya.
Tafsir Hadits
Hadits ini mencantumkan hak seorang muslim terhadap muslim lainnya. Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan dan hukumnya berbeda-beda, boleh jadi wajib atau sunnah muakkad yang hampir sederajat dengan hukum wajib. Penggunaan kata hak di sini mengandung dua arti atau termasuk bab mustarik dalam dua makna. Sebab kata hak dipergunakan untuk makna wajib. Demikian yang disebutkan oleh Ibnul' Arabi.
1. Mengucapkan salam ketika bertemu
Berdasarkan sabda beliau, "Apabila engkau bertemu dengannya hendaklah engkau memberikan salam kepadanya."
Perintah di sini menunjukkan wajib hukumnya memulai mengucapkan salam. Hanya saja Ibnu Abdil Bar dan lain-lain menukil bahwa memulai salam hukumnya sunnah dan menjawab salam hukumnya wajib. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan bahwa perintah menyebarkan salam merupakan sebab timbulnya rasa kasih sayang.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya sebaik-baik amalan adalah: memberi makan orang lain, mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.
Ammaar berkata, "Ada tiga perkara, jika ketiga perkara tersebut ada pada diri seseorang berarti keimanannya telah sempurna:
1.      Sikap inshaf terhadap diri sendiri.
2.      Menyebarkan salam ke seluruh alam.
3.      Berinfak di saat sulit.
Sungguh di dalam ketiga kalimat ini telah terkandung semua kebaikan.
As-salaam adalah salah satu dari nama Allah Ta'ala. Ucapan as-salaamu 'alaikum artinya nama Allah untuk kalian, yakni kalian di bawah penjagaan Allah. Sebagaimana dikatakan Allahu ma'aka artinya Allah-lah yang menemanimu.
Ada juga yang berpendapat as-salaam artinya keselamatan, yaitu semoga Allah senantiasa menyelamatkan kalian.
Ucapan salam yang paling pendek adalah as-salaamu 'alaikum, walaupun salam tersebut diucapkan kepada satu orang muslim saja, agar malaikat juga termasuk dalam ucapan tersebut. Kalimat yang sempurna adalah dengan menambahkan kalimat warahmatullaahi wa barakaatuh. Boleh juga dengan mengucapkan as-salaamu 'alaika dan salaamun 'alaika dalam bentuk tunggal dan menakirahkan kata salam. Jika ucapan salam ditujukan kepada satu orang maka wajib 'ain baginya untuk menjawab salam tersebut dan apabila satu kelompok maka hukumnya wajib kifayah. Sebentar lagi akan disebutkan sebuah hadits yang isinya: "Apabila serombongan orang berjalan maka cukup salah seorang saja dari mereka yang memberikan salam."
Apabila sekelompok orang melintas maka cukup salah seorang saja dari mereka yang memberikan salam. Untuk kondisi seperti ini hukumnya sunnah kifayah. Ketika menjawab salam disyaratkan untuk segera menjawabnya. Jika orang yang memberi salam tidak berada di tempat, maka dibalas melalui surat atau melalui perantara utusan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
«أَنَّهُ يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ»
"Hendaklah orang yang berkendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan, orang yang berjalan kepada orang yang duduk dan rombongan yang sedikit kepada rombongan yang banyak."
Dari sabda beliau: hak seorang muslim terhadap muslim yang lain, menunjukkan bahwa salam yang diucapkan seorang kafir dzimmi tidak wajib untuk. dijawab. Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu lebih dahulu memberi salam kepada orang Yahudi atau Nasrani!" Akan datang penjelasan tentang hadits ini.
Sabda beliau “jika kamu bertemu dengannya" menunjukkan bahwa salam tidak diucapkan ketika hendak berpisah. Hanya saja di dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
«إذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيُسَلِّمْ وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ وَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ»
"Apabila salah seorang kamu duduk (di majlisnya) maka hendaklah ia ucapkan salam dan apabila ia bangkit (dari majlisnya) maka hendaklah ia mengucapkan salam. Karena tidaklah ucapan salam yang pertama itu lebih wajib ketimbang ucapan salam yang kedua.” [Shahih: At Tirmidzi 2706]
Hadits ini tidak mengaitkan ucapan salam ketika bertemu. Kemudian yang dimaksud dalam hadits: jika kamu bertemu dengannya adalah, selama tidak ada yang memisahkan keduanya, seperti yang tertera di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:
وَإِذَا لَقِيَ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ فَإِنْ حَالَ بَيْنَهُمَا شَجَرَةٌ أَوْ جِدَارٌ ثُمَّ لَقِيَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ
"Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya hendaklah ia mengucapkan salam kepadanya. Apabila mereka dipisahkan oleh sebatang pohon atau dinding atau sebongkah batu lalu ia kembali bertemu, maka hendaklah ia kembali mengucapkan salam kepadanya [Shahih Abu Dawud (5200)]
Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, "Dahulu shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jalan bersama dan apabila di hadapan mereka ada sebatang pohon atau tempat sampah mereka pun berpisah, sebagian ke kiri dan sebagian lagi ke kanan. Ketika mereka bertemu kembali, mereka saling mengucapkan salam.
2. Apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau penuhi undangannya.
Zahir hadits menunjukkan wajibnya memenuhi setiap undangan, terutama undangan walimah dan yang semisalnya, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. Pendapat yang terkuat: memenuhi undangan walimah hukumnya wajib. Adapun selain undangan walimah hukumnya sunnah. Alasannya, karena adanya ancaman keras bagi yang tidak memenuhi undangan walimah, sementara undangan lainnya tidak ada dalil yang memberikan ancaman.
3. Apabila ia meminta nasehat kepadamu, hendaklah engkau menasehatinya
Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Hendaklah engkau menasehatinya," menunjukkan wajib hukumnya memberikan nasehat kepada orang yang meminta nasehat dan jangan malah menipunya.
Zhahir hadits menunjukkan bahwa pada dasarnya memberikan nasehat hukumnya tidak wajib, kecuali jika diminta dan apabila tidak diminta, maka hukumnya sunnah. Karena hal ini termasuk dalam bab seorang yang menunjukkan sebuah kebaikan.
4. Apabila ia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, hendaklah engkau mendoakannya
Kata "Fasammithu" dengan menggunakan huruf sin dan pada hadits yang lain dengan menggunakan huruf syin. Tsa'labah berkata, "Dikatakan, sammattul 'aathis artinya saya doakan dirinya semoga mendapatkan hidayah dan memperoleh akhlak yang lurus." Ia juga berkata, "Pada asalnya kata tersebut dengan menggunakan huruf sin hanya saja boleh juga menukarnya dengan huruf syin."
Hadits ini menunjukkan wajibnya menjawab orang bersin yang mengucapkan tahmid. Adapun kewajiban untuk bertahmid ketika bersin tidak ada tertera di dalam hadits.
An-Nawawi berkata, "Para ulama telah sepakat bahwa bertahmid ketika bersin hukumnya adalah mustahab. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu mencantumkan tata cara bertahmid, tata cara bertasmit dan jawaban atas ucapan tasmit tersebut. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
«إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُك اللَّهُ وَلْيَقُلْ هُوَ يَهْدِيكُمْ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ»
Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaklah mengucapkan: "alhamdu lillah," dan hendaklah saudara atau temannya menjawabnya dengan ucapan: "yarhamukallah, "jika temannya tersebut mengatakan "yarhamulkallah" maka hendaklah ia menjawabnya dengan ucapan "yahdikumullahu wa yushlihu baalakum.” [Shahih: Al Bukhari 6224]
Dalam riwayat Abu Dawud dan lain-lain dengan sanad yang shahih terdapat tambahan yang tidak terdapat pada hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu. Pada hadits riwayat Abu Dawud ini tertera bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
«إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُك اللَّهُ وَيَقُولُ هُوَ يَهْدِيكُمْ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ»
"Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaklah mengucapkan: "alhamdulillah 'ala kulli haal," dan hendaklah saudara atau temannya menjawabnya dengan ucapan: "yarhamukallah "maka hendaklah ia menjawabnya dengan ucapan: "yahdikumullahu wa yushlihu baalakum.” [Shahih: Abu Daud 5033]
Makna baalakum adalah keadaanmu. Jawaban yang tercantum dalam hadits ini merupakan pendapat jumhur ulama.
Ulama Kufah mengatakan bahwa Lafazh jawaban adalah yaghfirullaahu lana walakum. Mereka berdalilkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ibnu Mas'ud yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad dengan Lafazh jawaban: yaghfirullaahu lana walakum
Ada juga yang berpendapat: boleh memilih Lafazh mana yang disukai. Dan ada yang mengatakan kedua Lafazh tersebut digabung menjadi satu kalimat.
Madzhab Zhahiriyah dan Ibnul 'Arabi memilih jawaban dengan Lafazh tasmit.
Jawaban ini wajib diucapkan bagi setiap yang mendengarnya berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
«إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللَّهَ كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ يَسْمَعُهُ أَنْ يَقُولَ يَرْحَمُك اللَّهُ»
"Apabila salah seorang di antara kalian bersin lalu mengucapkan tahmid maka bagi setiap muslim yang mendengarnya wajib untuk menjawabnya: yarhamukallah., [shahih, Al-Bukhari (6226)]
Ini adalah madzhab Abu Dawud di dalam kitab Sunan-nya. Ibnu Abdil Bar telah meriwayatkan dari Abu Dawud dengan sanad yang shahih bahwasanya tatkala ia berada di sebuah kapal, ia mendengar seseorang di tepi pantai bersin. Kemudian Abu Dawud memberi satu dirham agar ia dapat mendatangi orang yang bersin tadi dan ia mengucapkan tasmit kepadanya. Lantas ia kembali berlayar. Kejadian itu dipertanyakan kepadanya dan ia menjawab, "Mungkin ia seorang yang memiliki doa yang makbul." Ketika penumpang-penumpang kapal itu tidur, mereka mendengar suara yang mengatakan kepada mereka bahwa Abu Dawud telah membeli surga dengan satu dirham.
Bisa jadi hal itu dilakukan Abu Dawud untuk meminta doa kepada orang tersebut, walaupun ia tidak berpendapat bahwa menjawab tahmid bersin itu hukumnya wajib.
An-Nawawi berkata, "Bagi yang mendengar seseorang bersin namun tidak bertahmid, disunnahkan untuk mengingatkannya agar mengucapkan tahmid sehingga ia dapat menjawabnya dengan tasmid. Karena perkara ini termasuk dalam bab nasehat dan perintah berbuat ma'ruf.
Di antara etika ketika bersin adalah sebagai berikut:
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ahmad dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dengan sanad yang marfu':
«إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَضَعْ كَفَّيْهِ عَلَى وَجْهِهِ وَلْيَخْفِضْ بِهَا صَوْتَهُ»
"Apabila salah seorang kalian bersin, hendaklah ia letakkan kedua telapak tangannya di wajahnya agar ia dapat meredam suaranya." [Hasan: Shahih Al Jami' 685]
Kemudian setelah kalimat alhamdulillah hendaknya ia tambahkan kalimat rabbil 'aalamiin. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
«إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَتْ الْمَلَائِكَةُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَإِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ رَبَّ الْعَالَمِينَ قَالَتْ الْمَلَائِكَةُ رَحِمَك اللَّهُ»
"Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan alhamdulillah. Malaikat berkata, "Rabil 'aalamiin." Jika ia telah mengucapkan Rabil 'aalamiin maka para malaikat menjawab, "Yarhamukallah."  Hadits ini adalah hadits dha'if. [Dhaif Jiddan: Dhaif Al Jami' 595]
Jika seseorang bersin berulang-ulang, maka disyariatkan juga untuk mengucapkan tasmit kepadanya maksimal tiga kali, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,
«إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيسُهُ فَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلَاثٍ فَهُوَ مَزْكُومٌ وَلَا يُشَمَّتُ بَعْدَ ثَلَاثٍ»
"Apabila salah seorang kalian bersin, hendaklah orang yang satu majlis dengannya mengucapkan tasymit. Jika bersinnya lebih dari tiga kali berarti orang tersebut sedang flu. Lebih dari tiga kali tidak perlu diucapkan tasymit.” [hasan, Abi Dawud (5035)]
Ibnu Abi Jumrah berkata, "Hadits ini membuktikan besarnya nikmat Allah Ta'ala terhadap orang yang bersin, karena di balik bersin terdapat kebaikan. Hadits ini juga menunjukkan betapa besar anugerah nikmat Allah kepada hamba-Nya, karena dengan bersin dapat menghilangkan hal-hal yang memudharatkan dirinya. Lalu Allah mensyariatkan untuk mengucapkan tahmid setelah bersin agar ia mendapatkan pahala. Lantas, setelah orang lain mengucapkan tasymit dan mendoakan kebaikan untuk dirinya, maka yang bersin pun mendoakan kebaikan untuk orang yang mengucapkan tasmit kepadanya. Dengan bersin seseorang dapat merasakan nikmat dan manfaat dengan keluarnya uap yang terhenti di otak. Seandainya uap tersebut tidak keluar tentu hal itu akan menimbulkan berbagai penyakit yang akut. Oleh karena itu, disyariatkan mengucapkan alhamdulillah sebagai rasa syukur atas nikmat bersin tersebut dan atas berfungsinya organ-organ tubuh seperti semula setelah mengalami kegoncangan seperti goncangan gempa bumi.
Dari hadits di atas dapat dipahami, bahwa tidak boleh mengucapkan tasymit untuk orang non muslim. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lain-lain meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Orang-orang Yahudi bersin di dekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan harapan agar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawabnya dengan ucapan yarhakumullah, sehingga mereka dapat menjawabnya dengan ucapan yahdikumullaahu wayushlihu baalakum." [Shahih: Abi Dawud (5038)]
Hadits ini menunjukkan apabila seorang non muslim bersin dan mengucapkan tahmid, maka dijawab dengan tasymit.
5. Bila ia sakit, hendaklah engkau jenguk
Ini menunjukkan wajibnya mengunjungi seorang muslim yang sakit. Bahkan Al-Bukhari berani memastikan hukum tersebut. Ada pendapat yang mengatakan: ada kemungkinan hukumnya fardhu kifayah. Tetapi jumhur ulama mengatakan hukumnya sunnah. Dan An-Nawawi menukil bahwa para ulama sepakat mengatakan tidak wajib. Penulis (Al-Hafizh Ibnu Hajar) berkata, "Yakni tidak wajib ain."
Dengan demikian wajib bagi seorang muslim untuk mengunjungi seorang muslim yang sedang sakit, baik ia kenal maupun tidak ia kenal, baik kerabat dekat maupun tidak. Hukum ini umum untuk semua orang sakit, kecuali sakit mata. Tetapi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Zaid bin Arqam, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam penah menjengukku ketika aku sakit mata."  Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. [Hasan: Abu Daud 3102]
Zhahir hadits ini menunjukkan bahwa hukum menjenguk orang yang sakit ini sudah berlaku sejak pertama kali orang yang sakit menderita suatu penyakit. Hanya saja dalam riwayat Ibnu Majah dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu diriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menjenguk, kecuali pada hari ketiga.  Namun, pada hadits ini terdapat seorang perawi matruk. [Maudhu: Ibnu Majah 1495]
Dari hadits ini juga dapat dipahami, bahwa kafir dzimmi yang sakit tidak perlu dijenguk. Akan tetapi, dalam sebuah hadits shahih, beliau pernah menjenguk pembantunya seorang kafir dzimmi dan masuk Islam berkat jengukan beliau. Demikian juga beliau pernah menjenguk pamannya Abu Thaalib ketika pamannya itu sakit yang menyebabkan kematiannya. Pada saat itu, beliau mengajaknya agar memeluk agama Islam.
6. Jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya
Ini menunjukkan bahwa wajib hukumnya mengiringi jenazah muslim, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. 

 Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, 18. KITAB AL-JAMI'18. KITAB AL-JAMI'\18.01. BAB ETIKA\1341

Hadits ke-40